-->

Friday, 1 May 2020

Work From Home (WFH), Nikmatis Saja!

"Wah...! ternyata bekerja di rumah terlalu lama bikin badan pegal-pegal, nafsu makan meningkat dan menguras isi dompet ya..." celoteh teman saya, saat bertemu di apotik. Sejak diberlakukan bekerja, belajar dan beribadah di rumah terkait masifnya penyebaran Covid -19, suasana kebatinan guru menjadi berubah.

Work From Home (WFH), Nikmatis Saja!

DNA guru terbiasa  bekerja full seharian di sekolah, bermain dan belajar  bersama siswa. Dan sekarang sepanjang hari terpaku berdiam di rumah. Setelah menyapa dan memandu siswa belajar lewat daring, Kejenuhan mulai menyusup ke sekujur pori-pori tubuh.

Seorang ibu guru berkeluh kesah saat asyik menonton rumah uya di trantv,  Ia berseloroh, "kayaknya lebih cape bekerja di rumah yah.. daripada mengajar di sekolah". Ya, rumah memang didesain bukan untuk tempat kerja. Rumah dicipta lebih kepada tempat beristirahat dan berkumpul bersama keluarga.
Saat ini kegiatan rapat tanpa mengharuskan berkumpul di suatu ruangan, cukup berdiam diri di rumah atau di pojok kebun yang rindang sambil menyeruput kopi hangat. ZOOM sudah memfasilitasi semuanya. 

Memang ada yang hilang dan terasa hambar meski wajah tampak di layar. Kehangatan dalam berjabat tangan, senyum sahabat yang tulus dan sajian kue yang terhidang, segalanya sirna dan tak membekas.
Era Covid -19 menjadikan aplikasi zoom menjadi booming dalam kegiatan rapat atau meeting. Meski di Jerman dan beberapa negara di eropa sudah mulai membatasi, lantaran zoom rentan diretas oleh para hacker sehingga tingkat keamanannya tak terjamin.

Work From Home (WFH) dalam durasi yang cukup lama ternyata mampu melejitkan potensi terpendam para guru. Rasa jenuh coba diberangus, saat usai pembelajaran daring. Ada diantara guru yang tidak lazim melakukan aktivitas hariannya, seperti ada yang menjadi tukang pangkas rambut, berternak ayam dan lele, berjualan kue dan sembako, bahkan berbisnis lewat online. Luar biasa ya...

Saat negara dikepung wabah, memang guru harus tetap eksis, memberikan kontribusi terbaik untuk lingkungannya. Seperti yang dilakukan oleh para guru madrasah di depok yang memberikan sumbangan berupa alat pelindung diri bagi tenaga medis, dan uang 22 juta rupiah untuk keluarga prasejahtera yang terdampak covid -19.

Selama bekerja di rumah, kita bisa melakukan pundi amal yang dapat membahagiakan keluarga dan lingkungan. Salat berjamaah di rumah tetap  terjaga, membaca quran dan buku pilihan tetap terpelihara, berdiskusi ringan dan bercengkrama dengan keluarga menjadi biasa.

Stop ! memberikan  tugas yang membebani siswa di rumah, berikan sapaan hangat setiap hari lewat grup WA kepada siswa dan orang tua. Berikan tugas yang bernuansa life skill yang menyenangkan,  dan  tugas pembiasaan baik  lainnya yang menantang cara berpikir serta bertindak sesuai kondisi saat ini. Gejala sakit mental dan depresi sudah mulai tampak di masyarakat. Mari menjadi jembatan bahagia buat mereka. Semoga.. (11 04 20, madyamin).

Post a Comment