-->

Friday, 1 May 2020

Kembalikan Kami Dalam Ke-Normal-an

Dulu kita sering mendengar ungkapan, hidup itu misteri atau seperti yang diungkap oleh para filsuf, tidak ada kebenaran absolut. Hari ini ada sunyi di persimpangan jalan, dan kita terdiam sejenak untuk mengubur rasa ngeri mencekam.

Wabah pandemi menormalkan tradisi yang tidak lazim di masyarakat, dan wabah itu  kian hari terus berlari kencang menyusuri sudut-sudut kota hingga perkampungan. Saat kita bercakap-cakap dengan seseorang yang mengenakan masker, saat itu kita menganggap kurang sopan. Selain wajahnya tidak dikenali, menutup wajah saat berinteraksi seolah tidak menghargai.

Kembalikan Kami Dalam Ke-Normal-an

Namun hari ini, bila semua orang memakai masker di jalanan, di toko, di kantor, di bank, di stasiun, di pasar, bertamu, saat rapat, saat olah raga, saat memberi khutbah maka semua menjadi biasa dan normal. Justru yang hari ini tidak memakai masker maka merekalah yang keliru, wajib ditegur, dianggap tidak mematuhi aturan dan tidak melindungi diri dan orang lain.

Bila hari ini disetiap bagian depan rumah, kantor, sekolah, gerbang perumahan atau fasilitas umum lainnya didapati ada tempat cuci tangan yang dilengkapi sabun, dan setiap kita yang datang dan pulang diwajibkan mencuci tangan. Maka hal itu menjadi lumrah dan biasa. Justru pada saat kita tidak mau mencuci tangan, maka kita dianggap tidak melaksanakan pola hidup bersih.

Kita tidak menganggap seseorang kurang ajar, ketika saling berjumpa tidak berjabat tangan atau bercium tangan. Terlebih kepada orang tua atau yang lebih senior. Kita hanya lempar senyuman, sambil kedua telapak tangan  disimpan diatas dada. Itu sudah cukup, dan hal ini dianggap normal. Justru ketika kita memaksa berjabat tangan, maka kita dianggap tidak mengetahui protokol kesehatan.

Saat ini kita menyaksikan, banyak masjid dan mushola ditutup, solat jumat digantikan dengan zuhur, sekolah dan kampus libur amat panjang, awak moda transportasi dibatasi, resepsi nikah ditunda, berbicara saling berjauhan, berbelanja kebutuhan harus online, kemana-mana harus selalu membawa hand sanitizer, selalu memakai masker, tidak ada yang janggal. Semua menjadi normal dan biasa.

Memasuki ramadhan, terbayang mudik pulang kampung, berkumpul dan bersilaturahim bersama keluarga dan membawa oleh-oleh kesukaan orang tua. Dan saat ini cukup silaturahim lewat video call. Dan ini suatu kenormalan, justru bila memaksakan mudik, akan banyak orang terpapar covid  dan kita dianggap tidak menyayangi keluarga bahkan orang tua.

Virus corona telah membalikan fakta kebenaran, telah memulai tradisi baru di masyarakat, dan telah mementahkan segala teori kaum cendikia. Untuk sementara lupakan teori korespondensi dari Aristoteles, atau teori pragmatik dari Charles S. Petrce tentang kebenaran.

Ya Allah segera akhiri wabah ini, kami yakin disetiap rasa takut, rasa lapar dan rasa kekurangan akan berlimpah kebaikan. Disaat ada kesulitan Engkau janjikan akan ada kemudahan. Disaat pintu masjid, musola dan sekolah sudah mulai tertutup, maka kami yakin pintu taubat dan pintu Rahmat-Mu akan terbuka luas buat kami.

Jangan jadikan wabah ini  mengundang pintu maksiat dan keputusasaan walau sesaat. Menormalkan  yang tidak normal, membenarkan yang keliru, menghalalkan yang haram. Wahai zat yang Maha Kuasa, kembalikan kami kedalam suasana normal penuh ketenangan, normal yang membahagiakan dan kenormalan dalam Ridho-Mu. 

(Rajeg, 16 april 2020,  madyamin)

Post a Comment