-->

Sunday, 23 December 2018

Menepis Kegalauan Kepala Sekolah

BILA disebut jabatan, Kepala Sekolah adalah jabatan tertinggi pada satuan pendidikan. Ia diangkat berdasarkan profesionalisme, prestasi, masa kerja dan kemampuan leadershif yang mumpuni. Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007, seorang kepala sekolah diharuskan memiliki kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial.

Namun fakta yang terjadi, tidak sedikit kepala sekolah yang akhirnya mengalami syndrom kegalauan yang berkepanjangan. Seringkali keterbatasan kemampuan manajerial dan komunikasi yang tersumbat serta mental kepemimpinan yang rendah menyebabkan banyak kepala sekolah terjebak oleh sistem birokrasi pragmatis dan kapitalis yang telah terbangun lama  tanpa disertai sikap kritis.

Hal yang amat mencengangkan adalah ketika hasil riset Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) pada semester II tahun 2012 menyebutkan bahwa kepala sekolah menjadi profesi paling sering  menyelewengkan anggaran pendidikan dengan angka 20 persen. Diurutan berikutnya dipegang oleh kontraktor dengan persentase 11 persen. Modus yang digunakan oleh oknum tersebut diantaranya penyalahgunaan wewenang, menggelapkan uang, tidak menyelesaikan pekerjaan proyek, membuat laporan proyek fiktif, dan pengadaan tanpa tender. Sehingga tidak sedikit kepala sekolah sering kali berhubungan dengan persoalan hukum. Tiga provinsi dengan tingkat penyelewengan anggaran pendidikan tertinggi adalah DKI Jakarta, Sumatra Utara dan Riau.
Menepis Kegalauan Kepala Sekolah
Sumber Google.com
Menjadi kepala sekolah saat ini bukan pekerjaan ringan, banyak kepala sekolah dengan sangat terpaksa menolak bantuan yang memiliki risiko tinggi. Apalagi harus meminta sumbangan kepada orang tua siswa yang dampaknya memudharatkan. Kepala sekolah justru saat ini lebih nyaman memanpaatkan anggaran yang ada dengan tetap merujuk kepada peraturan yang berlaku. Bukan sekedar mengelola keuangan dan administrasi yang menyebabkan kepala sekolah berkeluh kesah. Namun ada beberapa titik krusial yang  seringkali mengakibatkan kepala sekolah harus mengeluarkan energi lebih banyak. 

Pertama, gejolak dari dalam sekolah. Biasanya dilakukan oleh guru yang merasa tidak puas dengan kebijakan pimpinan. Guru seringkali melakukan manuver psikologis dengan mengganggu stabilitas sekolah. Tidak jarang guru tipe ini coba menggoyang kepemimpinan kepala sekolah yang dianggap tidak sejalan dengan  keinginannya. Meski jumlahnya kecil, aksi guru ini seringkali membuyarkan konsentrasi  kerja dan ganjalan tajam bagi kepala sekolah.

Kedua, Mendapat bantuan dari pemerintah atau pihak lain berupa Dana Alokasi Khusus (DAK), rehab, hibah, Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Siswa Miskin (BSM), peningkatan mutu baik bersumber dari APBN maupun APBD. Mendapat bantuan untuk pengembangan sekolah bukanlah sesuatu yang dapat dibanggakan. Tekanan maupun rongrongan dipastikan muncul dimana-mana. Kepalah sekolah harus bersiap-siap bertiarap untuk diserang dengan aneka pertanyaan oleh sejumlah wartawan dan LSM.. Pengawasan dan pemeriksaan juga berdatangan dari BPK, BPKP, inspektorat bahkan KPK. Bila tidak disiapkan dengan cermat, maka boleh jadi kepala sekolah akan mengalami tekanan yang maha hebat. Terlebih bila didapati ada penyimpangan dan kesalahan prosedur yang fatal.

Ketiga, rotasi dam mutasi. Kepala Sekolah yang sudah berada di wilayah nyaman tiba-tiba dimutasi ke tempat yang jarak tempuhnya jauh dari tempat tinggal, hal ini seringkali menimbulkan problema tersendiri. Bahkan yang lebih menguras pikiran adalah ketika kepala sekolah di mutasi ke sekolah yang minim potensi dan agak terbelakang. Ada anggapan bahwa kepala sekolah yang demikian telah dibuang dan diasingkan. Ini jelas melahirkan beban psikologis. Meskipun persoalan mutasi dan rotasi merupakan  suatu hal yang lazim dalam sebuah organisasi manapun, namun bagi kepala sekolah yang terkena mutasi ke tempat yang jauh dari harapan merupakan musibah besar dalam perjalanan karir dan pekerjaan.   

Keempat, dikembalikan kepada guru. Dibeberapa daerah sudah diberlakukan aturan yang memosisikan kepala sekolah dikembalikan kepada habitatnya yaitu guru. Kepala sekolah apabila dalam jangka waktu tertentu atau dalam menjalankan tugasnya tidak bermutu dan tidak memiliki prestasi apapun maka harus memiliki kesiapan untuk kembali menjadi guru biasa. Karena sesungguhnya kepala sekolah adalah guru yang memperoleh tugas tambahan. Hanya saja yang kita jumpai, banyak kepala sekolah sudah tidak lagi bersentuhan dengan kegiatan belajar mengajar di kelas. Padahal dalam aturan,  25 persen  kewajiban kepala sekolah masih dalam urusan domestik yakni mengajar, selebihnya kegiatan yang berhubungan dengan manajerial.

Keempat wilayah krusial diatas sejujurnya sering memunculkan frustasi dan kadangkala melemahkan semangat dikalangan kepala sekolah. Bahkan yang membuat lebih stres lagi ketika komunitas guru yang dipimpinnya masuk dalam katagori domba (meminjam istilah Robert E. Kelley)  yaitu pasif, tidak kritis, kurang inisiatif, tidak memiliki rasa tanggung jawab dan bekerja seadanya dalam menjalankan program yang didesain. Dalam kondisi tersebut, posisi sebagai kepala sekolah rawan jebakan bahkan dalam situasi tertentu dapat menghilangkan kesadaran bila kepala sekolah dikelilingi oleh orang yang rajin menjilat, membungkuk dan menghormat namun penuh ilusi dan kepura-puraan..

Dalam situasi ini diperlukan kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dan dapat bekerja sesuai dengan konteksnya. Kepala sekolah dituntut untuk mampu memberikan visi, menciptakan gambaran besar, menetapkan tujuan yang jelas dan disetujui bersama. Ia juga harus memonitor dan menganalisis prestasi serta mampu mengembangkan prestasi para pengikut yaitu dengan memberikan pengarahan dan panduan, melatih dan membimbing serta memberikan umpan balik.

Abdullah Munir menyimpulkan hasil kajiannya bahwa  ada hubungan yang positif antara kinerja kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru.  Dan ternyata kepuasan kerja guru ada korelasi positif dengan komunikasi antarpribadi kepala sekolah. Hal ini menegaskan bahwa kunci ketenangan kerja kepala sekolah terdapat pada kepiawaian dalam membangun hubungan komunikasi dengan lintas kepentingan. Sikap tertutup, egois, merendahkan orang lain, hanya akan mengantarkan kepada siksa batin yang berkepanjangan.
Zig Ziglar membagi pengalamannya untuk seorang pemimpin termasuk kepala sekolah, bila ingin menjalin komunikasi yang berkualitas,  pemimpin harus sensitif, dinamis, efektif, tegas dan penuh toleran. Setiap saat harus melahirkan inovasi untuk pengembangan kemajuan lembaga. Memiliki ide-ide liar dan segar sekaligus mampu membumikannya untuk kebesaran organisasi.
Menjadi seorang pilot yang membawa ratusan bahkan ribuan siswa dan guru dalam pesawat yang bernama sekolah tentu diperlukan sikap hati-hati, teliti dan penuh perhitungan. Bila kepala sekolah yang mengendalikan satuan pendidikan oleng kemudian jatuh hancur maka tak ada lagi yang diharapkan. Setiap kepala sekolah sebaiknya belajar mendengar dan untuk selalu ikhlas ditempatkan pada posisi manapun, termasuk untuk menjadi guru kehidupan.

Post a Comment