-->

Saturday, 22 December 2018

Guru-Murid Kehilangan Harmoni

Selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian yang menimpa siapapun, termasuk tragedi terbunuhnya guru sekolah menengah yang dianiaya muridnya sendiri. Atau seorang kepala sekolah yang dianiaya oleh orang tua murid.  Kita semua disadarkan bahwa ada persoalan besar yang melilit dunia pendidikan kita, dan hingga hari ini belum bisa dituntaskan.

Persoalan pendidikan bukan sekadar minimnya sarana, atau kurikulum yang belum sempurna, namun kita gagal dalam menerapkan pendidikan karakter yang sesungguhnya.  Pendidikan budi pekerti dipahami sebatas wacana, pendidikan karakter hanya ramai diperbincangkan di tempat diskusi dan seminar, kita mengalami krisis emosional sekaligus krisis spiritual yang berkepanjanagan. 
Guru-Murid Kehilangan Harmoni
Dokumentasi Penyerahan Piala

Anak-anak zaman kini terbiasa dengan kemudahan dan fasilitas serba ada. Para orang tua memanjakan anak-anaknya dengan uang dan aneka barang serba digital. Orang tua seperti “dendam” zaman, karena pada masa kanak-kanak dulu, mereka berada dalam situasi serba sulit, dan situasi pilu itu tidak boleh diwariskan kepada anak keturunannya.

Para orang tua merasa khawatir ketika anak-anaknya pergi ke sekolah sehingga setiap hari harus diantar jemput. Bahkan turut campur orang tua berlanjut hingga masuk kulih, memilih jurusan, memilih tempat kos sampai kepada menentukan prosesi pernikahan. Anak-anak itu tidak memiliki tantangan hidup yang membuatnya malas bergerak dan enggan berpikir. Mentalnya rapuh, jiwanya kering kerontang dan tidak memiliki daya juang yang tangguh. Inilah yang kemudian oleh Rhenald Kasali disebut strawberry generation, generasi yang terlihat sehat dan gemuk, eksotis dan indah, ceria dan menyenangkan, namun begitu terbentur masalah, seringkali mudah rapuh, terkoyak dan hancur.

Kita bisa menyaksikan bagaimana orang tua habis-habisan memanjakan anak-anaknya di sekolah dan di rumah. Bila anak-anaknya mendapatkan PR atau tugas pembelajaran dari sekolah, justru yang sibuk adalah orang tuanya sendiri dan anaknya dibiarkan berleha-leha. Bila orang tua mendapatkan informasi tentang perlakuan guru yang memberi sanksi anaknya di sekolah, maka reaksi keras dan ancaman siap dihujamkan kepada guru, kendatipun  informasi itu belum tentu dijamin kebenarannya.

Aksi kekerasan yang dilakukan siswa dan orang tua  kepada guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan sepertinya akan masih berlanjut pada episode berikutnya sepanjang orang tua dan pihak sekolah tidak pernah berintrospeksi untuk perbaikan dirinya. Orientasi pendidikan yang hanya mengejar ranking, nilai kognisi, sukses ujian nasional, dan ijazah, sesungguhnya telah meninabobokan tujuan suci pendidikan. Sekolah telah beralih fungsi layaknya pabrik yang mencetak anak-anak sesuai selera dan tuntutan pasar.  Kita kehilangan kesadaran untuk membumikan pendidikan karakter di rumah dan di sekolah sehingga siswa mengalami tuna empati, solidaritas, toleransi dan kohesi sosial.

Sekolah telah terjebak dengan pola rutinitas yang menjenuhkan. Guru tidak pernah disegarkan dengan metodologi pembelajaran kekinian, mereka terkungkung dengan pola lama yang dianggap paling hebat dan menghasilkan. Sehingga proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan tidak hadir di kelas. Antusiasme siswa hilang, alih-alih di kelas memperoleh pengetahuan justru kemudian banyak siswa yang stress, depresi dan kehilangna semangat belajar. Proses pembelajaran yang joyfull learning malah menciptakan “neraka” di ruang kelas. Kreatifitas anak kemudian beku dan seringkali melahirkan pemberontakan dan pembangkangan siswa terhadap gurunya.

Pemahaman orang tua dan guru terhadap perkembangan anak sejatinya lebih diperkuat. Menurut ilmuneurobehavior, anak usia 7 – 12 tahun merupakan periode perilaku manusia sedang terbentuk, perilaku manusia sangat bergantung pada kerja sekelompok otak yang disebut lobus frontalis dan parientalis. Perilakunya dipengaruhi oleh sistem memori yang terekem dalam otak. Bila saja daya rekam memorinya baik maka perilakunya akan baik, demikian pula sebaliknya bila memori yang terekam buruk maka perilkunya cenderung buruk.

     Pada usia 14 – 18 tahun adalah masa pribadi remaja yang penuh gelisah, persitiwa apapun akan sangat mudah terekam dalam memorinya. Anak yang menginjak remaja lebih menghindar untuk bersama-sama orang tua. Mereka lebih menyukai bergaul dengan usia sebayanya. Mereka mulai gelisah dengan segala ketimpangan yang terjadi di lingkungan masyarakat, bahkan visinya ingin mengubah dunia.     

Dizaman kini, informasi sampah dan tontonan kekerasan hadir tiada henti,  chanel siaran televisi dari seluruh penjuru dunia sangat gampang didapat, menunya bukan saja film aksi kekerasan, pornografi dan sadisme, namun lebih mengerikan dari itu. Permainan geme yang digandrungi anak-anak turut mempercepat penghancuran memori baik, dan yang tersimpan dalam memori anak-anak kita  adalah memori dendam dan kebencian.

Dalam kondisi semacam ini, guru diharapkan mampu menyajikan materi pembelajaran lebih menarik dari game yang anak-anak tonton setiap hari, bukan pembelajaran yang mematikan potensi dan kreativitas anak. Guru harus menjadi teladan dan model  terbaik bagi para muridnya. Guru tidak bertindak kasar apalagi bengis dalam menjalankan tugasnya di sekolah. Sehingga sekolah menjadi tempat yang humanis, egaliter dan rahmat bagi semua.

Yang kita khawatirkan, perilaku murid yang menyimpang dan mengabaikan laku adab dalam beriteraksi sosial, baik dengan guru atau dengan siapapun  boleh jadi karena ketiadaan teladan dan contoh dari para gurunya. Anak setiap saat menyaksikan perilaku guru yang memalukan, guru nyaris kehilangan kunci sebagai pendidik, yakni kasih sayang, saling percaya dan kewibawaan.

Guru harus kembali kepada fitrahnya yang mulia, yang senantiasa menjadi pelita bagi semesta, memberikan petunjuk dan jalan kebenaran melalui bimbingan dan tuntunan dengan segenap kasih sayang. Dan yang terpenting,  guru memiliki empati dan kepeduliaan tinggi terhadap para muridnya dengan nasehat penuh kesabaran. Semoga. (*)

Post a Comment